Thursday, December 10, 2009

Tanda-tanda kiamat sudah berlaku



Ada tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat yang perlu diantisipasi dewasa ini oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dua di antara ketiga tanda itu masuk dalam kategori tanda-tanda besar Kiamat. Satu lagi kadang dimasukkan ke dalam tanda besar, namun ada pula yang menyebutnya sebagai tanda penghubung antara tanda- tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat.

Tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat ialah diutusnya Imam Mahdi. Imam Mahdi merupakan tanda Kiamat yang menghubungkan antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat karena datang pada saat dunia sudah menyaksikan munculnya seluruh tanda-tanda kecil Kiamat yang mendahului tanda-tanda besar Kiamat. Allah tidak akan mengizinkan tanda-tanda besar Kiamat datng sebelum berbagai tanda kecil Kiamat telah tuntas kemunculannya.

Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah dalam kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:
• Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق
• Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء
• Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف
• Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد
• Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود
• Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف
• Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور
• Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا
• Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن
• Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين
• Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم
• Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق
• Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم
• Makan riba أكل الربا

Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah....

Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat. Dan bila asumsi ini benar, berarti dalam waktu dekat kita semua sudah harus bersiap-siap untuk menyambut datangnya tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat, yaitu diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Hal ini menjadi selaras dengan isyarat yang diungkapakan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai dua pra-kondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kese-wenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan adanya dua prakondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Kedua prakondisi tersebut ialah pertama, banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan kedua, terjadinya gempa-gempa. Subhaanallah. Jika kita amati kondisi dunia saat ini sudah sangat sarat dengan perselisihan antar-manusia, baik yang bersifat antar-pribadi maupun antar-kelompok. Demikian pula dengan fenomena gempa sudah sangat tinggi frekuensi berlangsungnya belakangan ini.

Berarti kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda Akhir Zaman yang jelas-jelas harus kita antisipasi dalam waktu dekat ini. Dan jika sudah terjadi berarti kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk mematuhi perintah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi. Kita diperintahkan untuk segera berbai’at dan bergabung ke dalam barisannya sebab episode-episode berikutnya merupakan rangkaian perang yang dipimpin Imam Mahdi untuk menaklukkan negeri-negeri yang dipimpin oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah)

Imam Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimatthoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari ujung paling timur hingga ujung paling barat.

Ghazawaat (perang-perang) tersebut akan dimulai dari jazirah Arab kemudian Persia (Iran) kemudian Ruum (Eropa dan Amerika) kemudian terakhir melawan pasukan Yahudi yang dipimpin langsung oleh puncak fitnah, yaitu Dajjal. Dan uniknya pasukan Imam Mahdi Insya Allah akan diizinkan Allah untuk senantiasa meraih kemenangan dalam berbagai perang tersebut.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan menghadapi Persia dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Ruum dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Dajjal dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya.” (HR Muslim)

Lalu kapan Nabiyullah Isa ’alihis-salaam akan turun dari langit diantar oleh dua malaikat di kanan dan kirinya? Menurut hadits-hadits yang ada Nabi Isa putra Maryam ’alihis-salaam akan datang sesudah pasukan Imam Mahdi selesai memerangi pasukan Ruum menjelang menghadapi perang berikutnya melawan pasukan Dajjal. Pada saat itulah Nabi Isa ’alihis-salaam akan Allah taqdirkan turun ke muka bumi untuk digabungkan ke dalam pasukan Imam Mahdi dan membunuh Dajjal dengan izin Allah.

Begitu Imam Mahdi dan pasukannya mendengar kabar bahwa Dajjal telah hadir dan mulai merajalela menebar fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka Imam Mahdi mengkonsolidasi pasukannya ke kota Damaskus. Lalu pada saat pasukan Imam Mahdi menjelang sholat Subuh di sebuah masjid yang berlokasi di sebelah timur kota Damaskus tiba-tiba turunlah Nabi Isa ’alihis-salaam diantar dua malaikat di menara putih masjid tersebut. Maka Imam Mahdi langsung mempersilahkan Nabi Isa ’alihis-salaam untuk mengimami sholat Subuh, namun ditolak olehnya dan malah Nabi Isa ’alihis-salaam menyuruh Imam Mahdi untuk menjadi imam sholat Subuh tersebut sedangkan Nabi Isa ’alihis-salaam makmum di belakangnya. Subhanallah.

" ينزل عيسى بن مريم ، فيقول أميرهم المهدي : تعال صل بنا ،
فيقول : لا إن بعضهم أمير بعض ، تكرمة الله لهذه الأمة " .

"Turunlah Isa putra Maryam ’alihis-salaam. Berkata pemimpin mereka Al-Mahdi: "Mari pimpin sholat kami." Berkata Isa ’alihis-salaam: "Tidak. Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi yang lainnya sebagai penghormatan Allah bagi Ummat ini." (Al Al-Bani dalam ”As-Salsalatu Ash-Shohihah”)

Saudaraku, marilah kita bersiap-siap mengantisipasi kedatangan tanda-tanda Akhir Zaman yang sangat fenomenal ini. Tanda-tanda yang akan merubah wajah dunia dari kondisi penuh kezaliman dewasa ini menuju keadilan di bawah naungan Syariat Allah dan kepemimpinan Imam Mahdi beserta Nabiyullah Isa ’alihis-salaam.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam barisan pasukan Imam Mahdi yang akan memperoleh satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) au mut syahidan (atau Mati Syahid). Amin ya Rabb.
Dipetik dari Eramuslim.com

Read more...

Monday, November 23, 2009

Lakukanlah wahai Ayahku

Kegembiraan seorang ayah

“Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar”. Demikianlah kata-kata Nabi Ismail seorang pemuda yang berani untuk taat kepada Allah. Ia merupakan bukti kecekalan seorang pemuda, keazaman dalam mentaati perintah Allah dan kesediaan menanggung segala risiko yang ditanggung dalam menjalankan tanggunjawabnya sebagai seorang hamba Allah. Artikel ini akan menghurai kisah penuh duka antara Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail a.s.

Nabi Ibrahim adalah seorang Nabi dan Rasul yang cekal berdakwah kepada ummatnya setelah berbagai ujian demi ujian menimpa beliau. Namun setelah mencecah usia 100 tahun, Allah s.w.t masih belum mengurniakan rezeki anak kepada beliau. Sudah menjadi lumrah bagi setiap insan yang telah beristeri, apatah lagi yang telah mencecah 1 abad , untuk mengidamkan zuriat yang menjadi penyambung perjuangannya. Oleh sebab itu Nabi Ibrahim a.s selalu berdoa kepada Allah :

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh" (As-soffat, 100)

Allah s.w.t, tuhan yang maha pemurah, oleh itu, dengan kasih sayang Allah terhadap hambanya yang soleh dan tak putus-putus berdoa kepadanya, Allah s.w.t menganugerahkan kepada Nabi Ibrahim seorang anak hasil pernikahannya dengan isterinya yang kedua iaitu Hajar, anak tersebut dinamakan Ismail.

Walaupun begitu anak adalah anugerah Allah dan datang dari Allah, maka Allah berhak memutuskan apa sahaja. Setelah beroleh kegembiraan menimang cahaya mata, Nabi Ibrahim diuji lagi dengan perintah Allah agar meninggalkan anak kecilnya di tengah-tengah padang pasir yang sekarang terkenal dengan tempat kiblat ummat Islam dan kembali menemui isteri pertamanya Sarah di Jerusalem kota Masjdil Aqso.
Dengan penuh tawakal dan berserah kepada Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan isteri dan anak tercinta di tengah-tengah padang pasir dengan berbekalkan beberapa potong roti dan sebuah bekas berisi air. Pengorbanan yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang bapa terhadap anak yang tercinta ini, dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan menanggung kesedihan atas ujian Allah.

Setiap ujian Allah ada hikmahnya. Dari tempat yang penuh berkat itulah, Allah besarkan Nabi Ismail dalam keadaan yang sempurna, mewujudkan sebuah petempatan yang dipenuhi manusia dengan berkat air zam-zam yang ditemui terpancut dari tapak kaki Nabi Allah Ismail setelah ibunya, Hajar berpenat lelah mencari air untuk beliau. Jelaslah kepada kita bahawa segala rezeki datang dari Allah, dan kita perlu yakin atas segala janjinya.

Nabi Ismail dibesarkan oleh ibunya bersama kafilah dagang yang menghuni kawasan itu bersama mereka sehinggalah mencapai umur remaja, setengah para ulama mengatakan umur Ismail ketika itu ialah 13 tahun.

Ketabahan seorang pemuda

Setelah sekian lama meninggalkan anak dan isteri dengan rasa penuh kepercayaan kepada Allah, Nabi Ibrahim diberi keizinan dan diperintah oleh Allah untuk melihat anak dan isteri kesayangannya di Mekah. Maka dengan hati yang gembira Ibrahim terus menuju ke Mekah.

Ulul Azmi ialah gelaran yang diberikan oleh beberapa orang Rasul yang paling banyak menerima ujian dari Allah, Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang daripada mereka. Ujian terus diberi oleh Allah kepada hambanya yang soleh, Ibrahim a.s. dengan mewahyukan mimpi kepada beliau sepertimana firmanNya;

“Maka ketika anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan dia) berusaha bersama-sama dengannya (untuk menguruskan kemaslahatannya dengan sendiri), Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu?"

Sudah sewajibnya seorang Rasul melaksanakan perintah wahyu yang diturunkan oleh Allah tanpa sebarang perbincangan, namun jika difikirkan, mengapa Nabi Ibrahim a.s. mengajukan soalan tersebut kepada Nabi Ismail a.s.? Kata Ulama, Nabi Ibrahim tetap akan melaksanakan perintah tersebut, tetapi soalan itu ditujukan adalah kerana beliau ingin menguji kesabaran dan keazaman anaknya Ismail a.s, dan memudahkan Ismail memahami perintah Allah dan menerimanya dengan redha dan bersabar.

Ternyata Nabi Ismail adalah seorang pemuda yang cekal dengan perintah Allah, sabar mendepani ujian, setelah mendengar arahan tersebut ialah dari Allah, Nabi Ismail terus menjawab tanpa berfikir panjang sepertimana yang dinukilkan dalam kitabullah;

“Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar”

Tidak cukup sekadar itu, di dalam beberapa riwayat yang disebut di dalam kitab tafsir Al-Wasith karangan Sheikh Tantawi , berkenaan ayat tersebut Nabi Ismail menambah kata-katanya; "Wahai ayahku, ketatkanlah taliku supaya aku tidak meronta, jagalah pakaianmu agar darahku tidak terkena sedikitpun di bajumu maka akan dilihat oleh Ibu dan dia akan bersedih, percepatkanlah gerakan pisau di atas leherku supaya memudahkan kematian ke atasku, dan jika ibuku datang sampaikanlah salamku kepadanya.." Sungguh kuat keazaman Nabi Ismail dalam mentaati perintah Allah tanpa ada sedikit keraguan terhadap perintah itu walaupun nyawa dipertaruhkan.
Nabi Ibrahim a.s. telah Berjaya mengharungi ujian Allah, Berjaya meletakkan kecintaan Allah di hadapan kecintaan kepada anak tersayang, dan isteri tercinta. Nabi Ismail a.s. juga Berjaya menempuh ujian tersebut, menerima perintah Allah dengan redha, sanggup mengorbankan jiwa dan masa hadapan demi kecintaan kepada Allah, bahkan menerima dengan bersabar tanpa sebarang kritikan dan persoalan. Setelah diletakkan Ismail a.s. di atas tanah, kedua-duanya telah bersedia, maka diseru kepada Nabi Ibrahim seperti dalam firman Allah;

"Setelah keduanya berserah bulat-bulat (menjunjung perintah Allah itu), dan Nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan meletakkan iringan mukanya di atas tompok tanah, dan Kami menyerunya: “Wahai Ibrahim! “Engkau telah menyempurnakan maksud mimpi yang engkau lihat itu. Demikianlah sebenarnya Kami membalas orang-orang yang berusaha mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya perintah ini adalah satu ujian yang nyata.”

Tertunailah perintah Allah berdasarkan kerelaan kedua-dua anak dan ayah tersbut maka Allah ganjarkan mereka dengan mengganti sembelihan tersebut dengan sebuah kibas putih yang bertanduk sepertimana dalam firman Allah;

"Dan Kami tebus anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar; Dan Kami kekalkan baginya (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian: “Salam sejahtera kepada Nabi Ibrahim!”.

Maka dinamakan hari tersebut sebagai 'yaum nahr' iaitu hari berkorban.
Pengorbanan kedua Rasul yang mulia ini diceritakan semula kepada junjungan besar, nabi Muhammad s.a.w, bahkan disyariatkan ibadah korban kepada umatnya sebagai mengingati dan mencontohi pengorbanan mereka di dalam firman Allah;

"Oleh itu, kerjakanlah sembahyang kerana Tuhanmu semata-mata, dan sembelihlah korban (sebagai bersyukur)." (Al-Kauthar, 2)

Hidup berkorban

Pemuda adalah insan yang dianugerahkan kecerdasan minda, kecergasan tubuh badan, keazaman yang tinggi serta semangat yang membara. Tidak hairanlah jika Nabi Ismail a.s. mampu untuk menjalankan perintah Allah tanpa sebarang syak wasangka walaupun dengan berdepan risiko nyawa akan terkorban, juga walaupun mengetahui perkara itu mustahil akan dilakukan oleh manusia biasa. Namun itulah kehidupan berhadapan perintah Allah. Semakin banyak diri kita mengikuti perintah Allah dan menjauhi laranganNya semakin dekat kita kepadaNya.
Hari Raya Eidul Adha atau Hari Raya Korban mengajak ummat Islam agar memperbaharui semangat pengorbanan yang dilakukan oleh pejuang-pejuang Islam sejak dahulu lagi diketuai oleh para nabi dan Rasul. Di samping itu juga, di hari raya ini juga ummat Islam disunatkan agar menyembelih haiwan korban jika berkemampuan untuk memperingati pengorbanan yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail a.s.
Marilah kita jadikan pengorbanan Nabi Ismail a.s. sebagai dorongan semangat kepada kita sebagai pemuda dan pemudi yang sanggup berkorban apa sahaja, harta, masa, nafsu, segalanya, semata-mata ingin mencari keredhaan Allah, semata-mata ingin mencintai junjungan besar Rasulullah s.a.w.
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik"
(Al-Hajj : 37)
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.

Read more...

Monday, September 21, 2009

Erti sebuah Hari Raya


Tamat Bulan Tarbiah

Alhamdulillah syukur ke hadrat Allah s.w.t kerana telah menyempurnakan nikmatNya kepada kita semua. Pada hari ini, semua ummat Islam di seluruh dunia menyambut Hari Raya EidulFitri, Hari Kemenangan bagi orang Islam yang telah membebaskan dirinya daripada belenggu dosa dan kembali kepada fitrah.

Firman Allah dalam membincangkan hal ini, "Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa (pada Bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah (apabila berhari raya) kerana Allah berikan hidayah kepada kamu." (Surah Al Baqarah : 185)

Benar sekali, bahawa Hari Raya perlu disambut dengan laungan takbir, tanda syukur kita kepada Allah yang telah menyempurnakan tarbiah Ramadhan kepada kita semua.

Erti Hari Raya


Hari Raya di dalam Islam dari segi agama bererti perayaan bagi menyatakan kesyukuran kepada Allah di atas penyempurnaan sesuatu Ibadah, samada penyempurnaan Ibadah puasa bagi Eidulfitri dan ibadah Haji bagi EidulAdha

Hari Raya dalam pengertian kemanusiaan bererti hari yang menyatukan antara golongan yang kaya dengan golongan yang miskin kerana pada hari ini kedua-dua golongan ini juga disatukan dengan sebuah ibadah yang dikurniakan Allah khusus untuk menyatukan mereka. Ummat Islam yang cukup nisob diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah pada hari raya EidulFitri dan Umat Islam disunatkan menyembelih korban pada hari raya Eidul Adha, kedua-duanya membawa mesej perpaduan dan tolong-menolong antara yang kaya dan yang miskin.

Erti sebuah hari raya adalah kegembiraan, bukan sekadar kegembiraan boleh makan-minum pada siang hari, bukan kegembiraan boleh berjumpa rakan-rakan sebaya dan sanak saudara, bukan juga kegembiraan boleh beraya di kampung dengan Keluarga tercinta, tetapi kegembiraan seorang hamba kerana mendapat keredhaan daripada Penciptanya.

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad) "kedatangan Al-Quran itu adalah semata-mata dengan limpah kurnia Allah dan kasih sayangNya, maka dengan isi kandungan Al-Quran itulah hendaknya mereka bersukacita (bukan dengan yang lainnya), kerana ia lebih baik daripada apa yang mereka himpunkan dari segala benda dan perkara yang tidak kekal)". (Yunus: 57)

Peluang menyatukan Silaturrahim

Pada Hari yang mulia inilah Nabi s.a.w menyeru kita supaya sama-sama meluaskan dan merapatkan ikatan silaturrahim sesama kita. Menghubungkan Silaturrahim adalah sebuah Ibadah yang sangat agung dalam Islam. Oleh sebab itu Rasulullah s.a.w telah memberi anugerah kepada muslim yang selalu menyambungkan silaturrahim dalam hadis Beliau;
“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali Silaturahim" (HR. Bukhari Muslim).

Orang yang menyambungkan Silaturrahim Allah s.w.t akan mengubah umurnya menjadi lebih panjangpada Luh Mahfuz, namun Allah pada Ilmunya telah mengetahui ajal maut seseorang dan semuanya tidak akan berubah pada Ilmu Allah.

Orang yang menyambungkan ikatan ukhuwah juga akan diluaskan rezekinya, dicukupkan makannya, dikurniakan harta yang halal, diberi zuriat yang soleh dan solehah.

Bahkan orang yang selalu menghubungkan ikatan persaudaraan sesama muslim akan disukai ramai dan mudah untuk berkomunikasi dan berhubung dengan ramai orang.

Oleh itu, Hari Raya telah menyediakan kita sebuah peluang keemasan kepada Ummat Islam untuk menghubungkan ikatan Silaturahim yang terputus, disambungkan dan yang renggang dirapatkan. Melalui amalan ziarah-menziarahi ke rumah-rumah teman dan kaum kerabat seseorang boleh mengenali mereka dengan lebih rapat dan dekat, melalui amalan rumah terbuka seseorang boleh menjadikan diri mudah didekati dan mesra dengan orang ramai.

Istiqamah melawan nafsu

“Jangan jadi hamba kepada bulan Ramadhan tetapi jadilah hamba kepada Allah”
Tepat sekali saranan yang diberi oleh Sheikh Yusof Al-Qardhawi dalam sebuah karyanya.

Mungkin ramai yang tidak sedar, ramai yang beribadah dengan kuat dan banyak di bulan Ramadhan. Namun Ibadah itu bukanlah sebenarnya ikhlas kerana Allah, kerana mengharapkan RidhaNya, MaghfirahNya, tetapi kerana ia bagaikan budaya dan budaya ini hanya dilakukan pada bulan Ramadhan.

Seorang Mukmin yang ikhlas beribadah kerana Allah tidak beribadah hanya bulan Ramadhan, tidak beribadah kepada Ramadhan kerana jika Ibadah ditjukan kepada Ramadhan, ia akan pergi dan mungkin tak akan kembali, tetapi jika Ibadah ditujukan, dilakukan kerana Allah, maka Allah s.w.t adalah tuhan yang bersifat baqa’ Allah s.w.t akan kekal, biarpun Ramadhan pergi, biarpun dunia sudah tiada lagi, Allah tetap kekal menemani Hambanya yang ikhlas beribadah kepadanya.

Oleh itu, momentum ibadah harus dikekalkan sebanyak mungkin, bacaan quran, qiyamullail, solat berjemaah, zikir dan doa harus diteruskan dengan kadar yang sepatutnya kerana Ramadhan melatih kita untuk memperbanyakkan amalan agar ia dapat diteruskan pada bulan-bulan seterusnya, sehinggalah tiba Ramadhan berikutnya untuk amalan diperbaharui, dimuhasabah dan ditambah lagi.

Kita pelik melihat kekuasaan Allah apabila di bulan Ramadhan, rata-rata Ummat Islam dapat menahan nafsu, mengekang diri daripada melakukan maksiat, tidak menghisap rokok, menjaga pandangan, dan sebagainya. Adakah ia kerana Syaitan dibelenggu yang menyebabkan seorang manusia kurang melakukan dosa dan maksiat? Adakah kerana nafsu makan dikekang sehingga membawa kepada terhapusnya nafsu-nafsu lain? Mungkin, ya, tetapi hikmah yang paling besar sebenarnya ialah Allah s.w.t mahu menunjukkan kepada hambanya bahawa seseorang mampu menahan nafsu, nafsu makan, nafsu syahwat, nafsu membuat maksiat semuanya dibuat dengan ikhlas kerana Allah, kerana menunaikan ibadah puasa. Tidakkah kita sebenarnya mampu untuk melawan nafsu?

Oleh itu, sabarlah, tahanlah diri daripada melakukan maksiat di bulan Ramadhan, Syawal dan seterusnya sehingga kita tiba semula di bulan Ramadhan jika dipanjangkan umur, kerana Ramadhan telah melatih kita untuk menahan nafsu, dan ia meninggalkan kita dengan sebuah akhlak mengharapkan kita dapat istiqamah dengan akhlak tersebut.

Benarlah Firman Allah dalam surah Yusuf memperihalkan seorang pemuda yang sabar dan takut kepada Allah dalam setiap ujian yang menimpanya.

“Sebenarnya sesiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak mensia-siakan balasan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Yusuf: 90)

Istiqamahlah dalam melawan nafsu moga Ramadhan menjadi pencetus kepada semangat mentaati Allah di bulan Syawal dan seterusnya. Jangan lupa untuk berpuasa enam di bulan Syawal, sebaik-baiknya berterusan selama enam hari.

Selamat Hari Raya EidulFitri Maaf zahir dan batin.

Read more...

Friday, September 11, 2009

Malam yang ditunggu setiap pencinta


Pencarian Bermula

Mala ini, malam 21 Ramadhan, bermulalah perjalanan seorang hamba Allah mencari keredhaan kekasihnya, mengenal penciptanya.

Setelah mendengar ceramah yang sangat menyentuh hati dari Sheikh Nabulsi di laman web beliau saya dapat simpulkan bahawa Lailatul qadr adalah sebuah malam yang perlu dihayati, sebuah malam yang mengenalkan seorang pencinta Allah kepada tuhannya.

Saya akan menulis lebih lanjut di artikel akan datang kerana kesuntukan masa. Saya tertarik dengan tulisan ustaz Zaharuddin tentang tajuk ini, oleh itu bacalah tulisannya di bawah;

Beberapa Info Berguna Berkenaan Malam Al-Qadar

Laylatul Qadar atau Malam al-Qadar telah diketahui umum sebagai malam yang amat istimewa buat seluruh umat Islam. Ia berdasarkan ayat al-Quran dari surah al-Qadr . Firman Allah SWT :
Ertinya : "Malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan" (Al-Qadr : 2).

Di Malam ini jugalah Nabi SAW bersungguh-sungguh beribadat melebihi malam-malam Ramadhan yang lain. Disebutkan di dalam sebuah hadith :-

Ertinya : Adalah Nabi SAW, beribadat dengan (lebih) bersungguh dan kuat di sepuluh malam terakhir Ramdhan, tidak sebagaimana baginda di malam-malam yang lain" (Riwayat Muslim, no 1175 )

Sebuah lagi hadis menyebut :- انه كان يعتكف فيها ويتحرى ليلة القدر خلالها
Ertinya : "Adalah Nabi SAW beriktikaf padanya dan berusaha mencari malam al-qadar darinya (malam-malam ramadhan)" ( Riwayat al-Bukhari & Muslim)

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وشد مئزره
Ertinya : " Apabila telah masuk 10 terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi menghidupkan malam, mengejutkan isterinya dan mengetatkan kainnya (tidak menyetubuhi isterinya kerana amat sibuk dengan ibadat yang khusus)" ( Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Waktunya


Para ulama antaranya Syeikh Dr Yusof Al-qaradawi menyebut bahawa tarikh malam lailatul qadar sengaja di sembunyikan oleh Allah SWT agar umat manusia berusaha bersungguh-sungguh bagi mencarinya, bagaimanapun ada disebutkan terdapat tanda-tanda akan kemunculan malam yang terhebat ini. Iaitu seperti hari esoknya yang tidak terlampu panas dan tidak pula sejuk, matahari pula tidak memancarkan sinarannya dan pelbagai lagi. Ia semuanya berasal dari hadith-hadith yang sohih.

Bagaimanapun tanda-tanda ini tidaklah begitu penting bagi individu yang benar-benar telah beribadat sepanjang malam. Ia juga tidak banyak memberikan manfaat kerana malam tersebut sudah terlepas sekiranya tanda itu dikenalpasti esoknya.

Malah, tanda ini juga adalah amat sukar menjadi tepat kerana suasana dan cuaca sesebuah Negara adalah berlainan. Di Negara barat contohnya mungkin sentiasa mendung kerana berada dalam musim sejuk, musim bunga manakala di Afrika pula mungkin sedang mengalami keterikan. Adakah malam al-qadar tidak muncul di tempat mereka kerana setiap siang adalah terik?.
Jawabnya, tanda-tanda ini hanyalah contoh yang berlaku di zaman Nabi SAW dan tidak lebih dari itu.

Menurut pandangan yang paling kuat di kalangan para ulama, ianya berlaku pada sepuluh malam yang terakhir, iaitu pada malam-malam ganjil.
Hadith Nabi menyebut:- التمسوها في العشر الأواخر من رمضان
Ertinya : " Carilah ia (malam al-qadar) di sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan" (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bagaimanapun, kita sekali lagi mungkin kebingungan pada tahun-tahun tertentu JIKA negara Arab memulakan puasa pada tarikh yang berbeza dengan negara-negara di Nusantara. Justeru, pada malam ganjil menurut kiraan Malaysia atau Saudi ?. Hal ini sukar diputuskan oleh para Ulama. Sudahnya, mereka menyarankan agar dihidupkan seluruh malam sahaja. Jawapan termudah tetapi tidak memuaskan hati tentunya. Wallahu alam.

Tarikhnya Berubah atau Tetap Setiap Tahun?

Sebahagian ulama mengatakannya bersifat tetap pada setiap tahun iaitu pada malam 27 Ramadhan, manakala majoriti ulama termasuk Imam An-Nawawi As-Syafie pula berpendapat ianya bertukar-tukar pada setiap tahun dan tidak kekal pada satu tarikh (Al-Majmu' 6/450).

Selain dari itu, berdasarkan dalil hadith al-Bukhari, kemungkinan terbesar adalah jatuh pada tujuh malam terakhir iaitu samada 25, 27 atau 29 Ramadhan berdasarkan sabdaan Nabi SAW:-
أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر ، فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر
Ertinya : Aku lihat mimpi kamu (sahabat) telah menepati di tujuh malam terakhir, sesiapa yang mencarinya, maka carilah ia di tujuh malam terakhir" ( Riwayat al-Bukhari , no 1911 & Muslim)

Dari tiga tarikh harapan itu, tarikh 27 Ramdhan adalah yang paling diharapkan oleh kebanyakan umat Islam (terutamany di negara Arab) dan ia juga dipegang oleh kebanyakan Sahabat Nabi SAW serta ulama silam, sehinggakan seorang sahabat bernama Ubay Bin Ka'ab ra bersumpah ia adalah malam ke dua puluh tujuh (di zamannya secara khasnya kerana beliau telah melihat tandanya dan yakin tarikh itu tidak berubah pada tahun-tahun berikutnya) dan zaman lain umumnya, sebagaimana dalil hadith yang menyebut:- ليلة القدر ليلة سبع وعشرين
Ertinya : "Malam al-Qadar dalah malam ke dua puluh tujuh" (Riwayat Ahmad, Abu Daud, no 1386 )

Doa Terpenting Semasa Lailatul Qadar

Allah s.w.t pernah menegur manusia yang lupa doa untuk akhirat mereka di masa puncak kemakbulan doa. Anataranya seperti hari Arafah, sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya :- فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Ertinya : Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat ( Al-Baqarah : 200 )

Jelas dalam ayat ini Allah s.w.t menegur manusia yang lupakan kebaikan akhiratnya.
Lalu Allah s.w.t mewartakan bentuk doa yang sepatutnya, iaitu yang merangkumi kebaikan dunia dan akhirat..dan dilebihkan 'portion' atau bahagian akhirat apabila di tambah "selamatkan dari api neraka". Beerti doa untuk bahagian akhirat perlu lebih dari dunia.

Lihat doa yang diingini Allah s.w.t :-
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ertinya : "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ""Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" ( Al-Baqarah : 201 )

Di malam-malam akhir ramadhan ini target utama kita adalah mendapatkan keampunan Allah s.w.t. Inilah yang disebut dalam jawapan nabi s.a.w kepada Aisyah r.a :-
وقالت عائشة ـ رضي الله عنها ـ : يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر، فما أقول ؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Ertinya : "Berkatalah Aisyah , Wahai Rasulullah, jika aku berkesempatan bertemu Malam Al-Qadar, apakah yang perlu aku katakan (doa) ? Bersabda Nabi : " Sebutlah doa " Ya Allah sesungguhnya dikaulah maha pengampun , dan amat suka memberi ampun, maka berikanlah daku keampunan"

Mestikah Mendapat Tanda ?


Sabda Nabi SAW :
من يقم ليلة القدر فيوافقها..
Ertinya : Barangsiapa yang menghidupkan malam qadar ini dan mendapatnya..." ( Riwayat Muslim)

Hadith ini menyebabkan setengah ulama mengatakan bahawa setiap individu yang mendapat keberkatan malam al-qadar mestilah mengetahui berdasarkan hadith di atas.
Bagaimanapun, pandangan yang lebih tepat adalah seseorang individu itu mampu mendapat kebaikannya, samada ia mengetahuinya atau tidak mengetahuinya, tanpa menafikan bahawa sesetengah individu diberi rezeki dan kelebihan oleh Allah untuk mengetahuinya melalui pelbagai cara termasuk mimpi, tanda menarik dan mungkin pelik dan sebagainya.

Tidak perlulah untuk solat malam di tepi pokok atau di hadapan baldi air, kerana ingin memastikan waktu pokok sujud atau air menjadi beku. Allah akan memberikan tandanya menurut kehendakNya.

Masa Berkat Berpanjangan atau Hanya Beberapa Saat?

Saya masih ingat, semasa saya berada di zaman kanak-kanak, tersebar info kepada kebanyakkan saya dan rakan-rakan ketika itu adalah :
waktu maqbul dan berkat ini beberapa saat sahaja. Jika terlepas maka saatnya rugilah sepanjang hayat.

Rupanya, ia hanya rekaan para pereka cipta sahaja yang tidak diketahui tujuan mereka. Hakikatnya, waktu berkat lagi makbul ini adalah luas sepanjang malam, ia telah disebutkan oleh Allah dengan jelas iaitu :- سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Ertinya : Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ( Al-Qadr : 5 )

Inilah yang diterangkan oleh Imam Al-Qurtubi di dalam kitabnya. (Al-Jami' Li Ahkam al-Quran, 20/134 )

Wanita Haid Terhalang Dari Berkatnya ?


Adakah wanita sedang haid terhalang dari keberkatan lailatul Qadar?. Sudah tentu jawabnya tidak, Allah s.w.t maha adil. Bagi wanita sedang uzur pelbagai amalan dan ibadah yang masih boleh dilakukan seperti :-
• 1) Berzikir
• 2) Berdoa
• 3) Membawa terjemahan Al-Quran serta memahaminya.
• 4) Mendengar bacaan Al-Quran oleh suaminya, adik beradik atau dari kaset.
Sebahagian ulama silam dan moden seperti Syeikh Prof. Dr Muhammad Abu Laylah ( Prof Syariah di Univ Al-Azhar) berpendapat mereka dibenarkan juga membaca al-Quran tanpa memegangnya (melalui hafazan), malah sebahagian yang lain seperti Fatwa Ulama Saudi pula membenarkan mereka membacanya melalui mashaf. Saya tidak ingin membincangkannya di sini. Sekadar memberikan idea dan keterbukaan di kalangan para ulama.
Semoga kita diberikan kekuatan ibadah dan keikhlasan di waktu malam tersebut.

sekian
Zaharuddin Abd Rahman
http://www.zaharuddin.net/

Read more...

Wednesday, September 9, 2009

Mensyukuri sebuah nikmat



Sebuah Nikmat

Berapa ramai insan di dunia ini tidak beribu dan tidak berbapa? Samada meninggal semasa kecil atau besar atau langsung tidak diketahui ibu bapanya sejak dari kecil, ditinggalkan di tong sampah atau di masjid-masjid.

Berapa banyak rumah anak yatim di negara kita? Memang tidak terkira banyaknya. Di Palestin pula, anak-anak hari-hari meratapi kematian ibu atau bapanya.

Namun masih ada di kalangan kita yang tidak menghargai sebuah nikmat, nikmat yang datang dari pencipta, nikmat memiliki sepasang ibu bapa.

Masih ada yang tidak hormat ibu bapa, tidak sayang ibu bapa, tidak ikut perintah ibu bapa, bahkan terlalu ramai bilangan anak-anak muda yang mengingkari arahan ibu bapa, menengking ibu bapa, tidak mengendahkan ibu bapa, menyakitkan hati ibu bapa bahkan menyakiti fizikal dan membunuh ibu bapa.

Tidakkah kita pernah mendengar sabda nabi tentang perkara ini,
“Seorang berbangsa Arab datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah apakah dia dosa besar?”
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Mensyirikkan Allah.”
Dia (orang Arab itu) berkata lagi: “Kemudian apa?”,
Baginda Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Kemudian menderhaka kedua ibu bapa …”
(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Oleh itu, nikmat ibu bapa harus kita hargai, mereka perlu disayangi, ditaati, digembirakan dan dijaga.

Teringat nasyid yang selalu dinyanyikan oleh kumpulan Soutul Mujahidin di KISAS dulu yang diambil daripada firman Allah s.w.t dalam surah An-Naml ayat 19;

" Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMu yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai; dan masukkanlah daku - dengan limpah rahmatMu - dalam kumpulan hamba-hambaMu yang soleh".

Ayat tersebut merupakan doa nabi Sulaiman ketika dia tersenyum melihat gelagat semut, namun ayat ini bertepatan untuk kita doa sebagai mensyukuri mana-mana nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Menolong dalam kerja-kerja seharian

“Fauzan, tolong jemur baju, basuh baju, tebas rumput” Antara kata-kata yang selalu aku dengar setiap pagi, selepas fajar terbit dari mului mama.

Kadang-kadang jika kita ada kerja terdetik dalam hati “malasnya…” Maka akan keluarlah kata-kata dari mulut “kejap lagi ma..” Itu godaan nafsu, godaan syaitan harus kita sama-sama buang jauh-jauh.

Dalam melayari bahtera rumahtangga, emak dan ayah tidak mampu untuk menyediakan segala-galanya untuk anak-anak. Anak-anak bukan sama sekali raja yang hanya duduk berehat atau belajar, tetapi mereka perlu memikul tanggungjawab sebagai seorang anak iaitu membantu ibu bapa.

Di rumah banyak tugasan yang perlu disempurnakan setiap hari sebagai rutin jika sebuah keluraga tidak memiliki orang gaji, menyapu sampah, menjemur baju, membasuh pinggan, mengemas rumah dan sebagainya. Tambahan pula jika ibu dan ayah bekerja, anak-anak bersekolah, seharusnya kita tidak boleh melepaskan tugasan harian kepada ibu bapa sahaja. Anak-anak tidak boleh leka dengan dunia remaja hinggakan lupa dunia berkeluarga, berayah, beribu dan beradik beradik.

Jadilah penyejuk mata hati

"Dan ‘IBADUL RAHMAN (hamba-hamba Allah Ar-Rahman), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun…...
Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami: perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertaqwa. (Al-Furqan, 74)

Ayat tersebut adalah merupakan doa bagi seorang ibadu Rahman (hamba bagi Allah yang maha pengasih) sepertimana di sebutkan sifat-sifat ibadu Rahman di dalam surah tersebut.

Antara sifat Hamba Allah yang sejati adalah sentiasa mendoakan agar zuriatnya menjadi penyejuk mata hatinya.

Ibu bapa sentiasan mendoakan agar anak-anak menjadi penyejuk mata hatinya. Oleh itu kita perlu cuba sedaya upaya menyejukkan mata mereka apabila mereka memandang kita.

Bagaimana caranya menyejukkan mata hati mereka?

Bukankah sejuk mata hati ibu memandang anak menyapu sampah, menebas semak-samun, mengemas rumah?

Bukankah sejuk mata ibu dan bapa melihat anak-anak berjaya di dalam peperiksaan dan mendapat tempat di sisi masyarakat?

Bukankah sejuk mata hati seorang ayah memandang seorang anak bangun malam, berdoa dan bermunajat kepada Allah?

Sebaliknya, tidakkah terguris mata ibu apabila seorang anak yang belajar jauh tidak menghubunginya sekian lama tanpa khabar berita?

Tidakkah terguris hati ayah apabila mengetahui anak-anak membuat maksiat di belakangnya tanpa pengetahuannya?

Marilah kita menjadi penyejuk mata hati bagi ibu dan ayah kita secara khusus dan yang utamanya menjadi seorang hamba Allah yang sentiasa merasakan pengawasan dan pandangan dari Allah, yang maha melihat.


Doa seorang anak

Tiba di tajuk ini tidak ramai di kalangan kita yang tidak memahami dan menghayatinya. Ramai yang berdoa “Ya Allah ampunkan dosaku dan dosa kedua ibubapaku” di dalam bahasa arab tetapi berapa ramai yang betul-betul ikhlas dalam berdoa kepada ibu bapa?
Berapa ramai yang berdoa untuk kesihatan ibu bapa?
Berapa ramai yang berdoa agar ibu bapanya dimasukkan ke dalam syurga?

Tanpa kita sedari dan selalu kita lupa, ibu dan bapa kita setiap hari mendoakan kita, setiap hari mendoakan kejayaan kita, menjadi anak yang soleh, mendapat kehidupan yang bahagia. Pernahkah mereka tidak ikhlas dalam doa mereka?

Tidak sama sekali, kerana cinta mereka tiada sebab, tiada syarat, tiada berbelah bagi. Cinta mereka kepada mereka kerana kita adalah anak mereka, Cinta mereka adalah cinta semulajadi yang tidak dapat dipisahkan walau sejahat mana pun mereka. Adakah kita mencintai mereka dan mendoakan mereka?

Ya Allah, ampunkanlah dosaku, ampunkan dosa ibu bapaku dan rahmatilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka menyayangiku ketika diriku masih kecil”.

Sebuah kisah buat pedoman

Ketika Rasulullah s.a.w sedang tawaf pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang anak muda yang bahunya sudah melecet.
Setelah selesai tawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa bahumu itu ?"
Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai
seorang ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya
tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika
buang hajat, ketika solat, atau ketika istirahat, selain itu
sisanya selalu saya menggendongnya".

Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan:
"Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti,
tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu
".

Dari hadis tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal cinta dan ibadah kita
ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang
tua kita.

Namun kita boleh mulakan dengan sekecil-kecil doa anak yang soleh daripada kita yang pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Read more...

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP